Bagaimana Hukumnya Menyambut Ramadhan dengan Tradisi Marpangir?

Daerah, Nasional431 Views

SEKILAS SUMUT — Marpangir merupakan tradisi mandi menggunakan ramuan rempah-rempah yang masih dilestarikan oleh masyarakat Mandailing di Sumatera Utara. Ritual ini dilakukan menjelang bulan Ramadan sebagai bentuk persiapan menyambut bulan suci dengan kesucian lahir dan batin. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini.

Dalam artikel Ziarah Kubur, Marpangir, Mangan Fajar: Tradisi Masyarakat Angkola dan Mandailing Menyambut Bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang ditulis oleh Muhammad Andre Syahbana Siregar, dijelaskan bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam Marpangir cukup beragam, di antaranya daun sereh wangi, daun jeruk purut, daun pandan, daun nilam, mayang pinang, akar usar, akar sitanggis, dan jeruk purut. Proses pengumpulan bahan biasanya dilakukan bersama keluarga sebagai bagian dari kebersamaan dalam menjalankan tradisi ini.

Marpangir bukan sekadar aktivitas mandi, tetapi juga memiliki makna simbolis dan historis. Pada masa lalu, sebelum sabun dikenal luas, tradisi ini menjadi cara alami bagi masyarakat untuk membersihkan tubuh menggunakan bahan-bahan herbal. Air rebusan rempah-rempah tersebut dipercaya tidak hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga memberikan aroma wangi yang menenangkan. Ritual ini umumnya dilakukan di sungai atau tempat pemandian umum, di mana masyarakat berkumpul untuk mandi bersama dan saling membantu.

Selain manfaat kebersihan, Marpangir juga melambangkan kesiapan spiritual dalam menyambut Ramadan. Mandi sebelum menjalankan ibadah puasa diyakini dapat menghilangkan hadas besar maupun kecil, sekaligus menyucikan diri dari kotoran lahir dan batin. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ernita Daulay dan Tasnim Lubis dalam jurnal The Revitalization of Mandi Marpangir Tradition in Matondang Village, Padang Lawas Regency, kebiasaan ini masih dipraktikkan menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Masyarakat setempat meyakini bahwa menjaga kelestarian tradisi ini adalah bagian dari penghormatan terhadap budaya leluhur, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Dari perspektif Islam, mandi sebelum Ramadan bukanlah suatu kewajiban, tetapi merupakan salah satu amalan yang dianjurkan. Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani dalam kitab Qutul Habib al-Gharib Tausyih ‘Ala Fathi al-Qarib Syarh Ghayati al-Taqrib menyebutkan bahwa mandi di malam Ramadan termasuk sunnah dan bisa dilakukan setiap malam selama bulan puasa. Hal yang sama juga dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, di mana mandi sunnah setiap malam Ramadan dianjurkan sebagai bentuk penyucian diri sebelum menjalankan ibadah.

Jika Marpangir dilakukan di malam hari menjelang Ramadan, maka praktik ini sejalan dengan sunnah yang dianjurkan dalam Islam. Namun, meskipun dilakukan pada siang atau sore hari sebelum Ramadan, makna simbolisnya tetap memiliki nilai positif dalam menyambut bulan suci dengan kebersihan dan kesucian. Terlebih lagi, bahan-bahan alami yang digunakan dalam Marpangir tidak hanya halal tetapi juga bermanfaat bagi tubuh dan kesehatan.

Marpangir merupakan tradisi yang merepresentasikan harmoni antara budaya dan nilai-nilai Islam. Seiring perkembangan zaman, praktik ini tetap bertahan dan menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur. Bagi masyarakat Mandailing, menjaga tradisi ini berarti melestarikan identitas budaya yang telah ada selama ratusan tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *